Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” Al Israa’ 36
Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin, tak terasa artikel di forum ini telah mencapai bab ke 20. Tapi memang, bila suatu pembahasan itu bertujuan untuk ilmu, insyaAllah tidak akan berhenti. Secara pribadi, saya menyangka bahwa pembahasan mengenai kejawen adalah bisa diminimalisir. Namun ternyata belum terlihat dimana titik pemberhentiannya.
Ilmu atau keilmuan jawa, memiliki tiga tiang. Pertama, Budaya jawa. Kedua, kasepuhan. Ketiga, kejawen atau klenik (Keilmuan perdukunan). Sari daripada ilmu kejawen diantaranya; kanuragan atau katosan (ilmu kesaktian kekuatan fisik), ajian (ilmu kesaktian secara kejiwaan), nujum atau petung (ramalan), jimat (termasuk di dalamnya ilmu rajah dan wifik) dan ilmu pelet atau pengasihan (mahabbah).
Terkadang orang salah paham, bahwa apapun yang berbau ke-jawa-an, pasti kejawen. Bukan, sama sekali bukan demikian. Kejawen itu sendiri hanyalah bagian dari sikap hidup manusia jawa. Sedangkan ilmu jawa itu bagai kopi susu, maksudnya; kopi susu adalah campuran dari gula - susu - kopi (serta air, tentu saja). Maka ketika seseorang dihadapkan dengan segelas kopi susu, akan kesusahan untuk memisahkan antara mana yang kopi saja, mana yang susu saja dan mana yang gula saja. Karena dari kesemuanya sudah bercampur menjadi satu, namun bukan berarti tidak dapat disendiri-sendirikan (Masih dapat dipisahkan, hanya saja sukar sekali). Maka kurang lebih seperti itulah ilmu jawa.
Pada bab kali ini, saya bukan hendak menyampaikan isi penuh kejawen, melainkan dibatasi pada bab khusus mengenai penjelasan pelet - pengasihan - mahabbah. Sebenarnya penjelasan singkat mengenai P2 M ini sudah dibabar di bab III yang berjudul P4 JMS. Namun oleh karena sudah lama postingannya dan juga dibahas secara umum, bukan secara mendetail, maka saya kira belum cukup jelas. Oleh karenanya perlu diposting ulang dan secara eksklusif.
Agar lebih komunikatif, bab kali ini akan dikemas dalam wujud dialog (tanya-jawab) dengan tujuan memudahkan proses membaca maupun penyerapan ilmu.
sebagaimana berikut;
- Tanya: "Apakah fungsi dari pelet, pengasihan dan mahabbah?"
- Jawab:
"Yaitu suatu teknik atau cara secara kebatinan untuk mempengaruhi jiwa
seseorang agar timbul rasa cinta yang mendalam ke pihak yang menggunakan
jasa daripada hal-hal tersebut. Secara pengertian awam begitu. Tapi
hakikatnya, pelet dan kawan-kawannya itu bukan untuk menumbuhkan atau
menyuburkan cinta, tapi membuat seseorang itu bingung sehingga dapat
dikendalikan."
- Tanya: "Apakah perbedaan dari pelet, pengasihan dan mahabbah? Mengingat karena penyebutannya berlainan. Dimana perbedaannya?"
- Jawab:
"Seluruhnya sama, tidak ada beda. Secara dialek, kata pelet adalah
istilah yang kasar. Maka diperhalus menjadi pengasihan. Adapun mahabbah,
itu hanya di arab-arabkan agar terkesan islami.
- Tanya: "Pelet itu disebut pelet karena pengaruhnya yang instan, frontal dan cepat. Sedangkan pengasihan, itu lamban namun merasuk dengan benar-benar. Bagaimana dengan hal ini?"
- Jawab: "Tidak,
antara pelet dan pengasihan itu sama saja. Hanya saja, yang satu adalah
istilah sebenarnya, sedangkan pengasihan adalah istilah yang
diperhalus."
- Tanya: "Apakah benar bahwa ada jenis pelet hitam dan pelet aliran putih?"
- Jawab:
"Seluruh ilmu pelet dan pengasihan, adapun yang manjur itu pasti hitam.
Sedangkan yang putih, itu tidak manjur. Andai aliran putih itu mujarab,
bisa dipastikan bahwa itu ilmu hitam yang disamarkan."
- Tanya: "Konon kabarnya ada pengasihan al hikmah dan adapula pengasihan dengan daya kekuatan pikiran. Bagaimanakah kebenarannya?"
- Jawab: "Pengasihan Al hikmah, itu dusta besar. Pengasihan dengan daya kekuatan pikiran, itu dusta besar juga. Seluruhnya mengada-ada."
- Tanya: "Bukankah ada pengasihan Yusuf yang dinukil dari surah Yusuf ayat 4? Bagaimana kebenarannya?"
- Jawab:
"Itu dusta besar. Andai ada yang bilang mujarab, itu hanya sugestinya
semata. Sebabnya logis saja, ketika seseorang itu sudah merapal,
otomatis rasa percaya dirinya meningkat. Pembawaannya berubah mantab.
Maka ia menjadi lebih berani untuk maju. Selain itu, kalau surah yusuf
ayat 4 bisa difungsikan sebagai ilmu pelet, pasti ada keterangan dari
hadist."
- Tanya: "Andaikata ada orang melakukan suatu ilmu pelet sedangkan ia menukil-nukil ayat dari Al Quran, bagaimana hukumnya?"
- Jawab:
"Haram. Pelakunya sudah masuk ke perbuatan syirik. Karena Al Quran
berisi firman Allah dan bukan untuk perbuatan sihir. Selain itu, syariat
islam memberi larangan keras bagi tindakan sihir. Maka apakah nalar
bila Al Quran yang notabene sebagai kitab islam dapat digunakan sebagai
rujukan sihir?"
- Tanya: "Mengambil ayat-ayat dari Al Quran, sedangkan itu difungsikan sebagai pengasihan atau mahabbah, bukankah itu hakikatnya berdoa kepada Allah agar si target menjadi cinta terhadap si pelaku? Masa hal seperti itu dinyatakan sihir?"
- Jawab:
"Itu adalah dalih yang tidak rasional. Alasan yang sedemikian rupa itu
hanya sebagai akal-akalan agar mendapat pe-maklum-an, dengan kata lain
agar suatu tindakan sihir itu dinyatakan halal sehingga boleh dilakukan.
Bila menginginkan agar hati si target menjadi cinta, bukankah cukup
dengan berdoa dan tidak perlu memakai jalan pelet?"
- Tanya: "Konon suatu ilmu pelet itu wajib melakukan ritual seperti puasa mutih sekian hari, pati geni sekian lama dan sebagainya. Apakah memang harus demikian?"
- Jawab: "Seluruh lelaku dalam ilmu asihan, itu
hanya kedok belaka. Sifatnya hanya untuk memberikan kesan sakral dan
pencucian otak agar si pelaku merasa mantab dan yakin bahwa usahanya
kelak membuahkan hasil. Padahal rahasia kemanjuran suatu pelet itu hanya
berasal dari jin yang bersedia menjadi khodam suatu ilmu yang dijalani.
Coba perhatikan, andaikata suatu ilmu asihan itu tingkat
keberhasilannya bergantung pada ketekunan ritual, mengapa membutuhkan
aneka sesajen sekaligus foto si target, wetonnya, pakaian bekasnya,
rambutnya, nama lengkapnya, nama orang tuanya, arah rumahnya menghadap,
alamat rumah dan tanah bekas injakan kakinya?"
- Tanya: "Mengapa orang tertarik dengan ilmu pelet dan kawan-kawannya?"
- Jawab:
"Mereka yang menggandrungi ilmu pelet atau asihan, itu sebatas kaum
yang putus asa, tidak percaya diri, ingin enak dan instan, takut
menghadapi kesukaran, aqidahnya lemah sehingga imannya keropos, orang
awam akan rahasia ilmu asihan dan takut menghadapi kenyataan. Intinya,
para pengguna jasa asihan hanya orang yang iman, mental dan logikanya
rapuh."
- Tanya: "Apakah ada saat-saat tertentu dimana suatu ilmu pelet itu besar energinya?"
- Jawab:
"Tidak ada. Justru yang ada hanyalah saat-saat dimana seorang target
itu sedang lemah, maka pengaruh pelet pun dapat merasuk dan menguasai
orang tersebut. Artian lemah itu adalah dimana seseorang itu tengah
junub, tengah menstruasi, tengah drop kondisi fisiknya, ditambah lagi
imannya sedang tipis sehingga lupa berdoa dan sebagainya."
- Tanya: "Apakah setiap manusia dapat terkena pelet?"
- Jawab:
"Seluruh manusia pada dasarnya mampu terkena pelet (sihir). Hanya saja,
yang membedakan bisa dan tidaknya seorang manusia terkena pelet itu
adalah kadar imannya dan kondisi jiwa raganya. Lebih-lebih bila
seseorang itu tengah lengah, maka pengaruh pelet dengan mudah masuk.
Maka dari itu, ketika seseorang hendak melancarkan suatu ilmu pelet,
sebagai salah satu dasarnya adalah ia wajib membuat si target bermasalah
dengan kehidupannya sehingga lengah dan dapat diserang."
- Tanya: "Mengapa suatu doa itu dapat menangkal gangguan sihir? Seperti pelet misalnya."
- Jawab: "Alasannya,
karena doa (berasal dari kata da’a) memiliki arti “memanggil atau
menyeru,” yakni memohon pertolongan atau bala bantuan kepada Allah SWT,
Tuhan Semesta alam. Selain itu, seperti doa ruqyah misalnya. Doa ruqyah
itu diambil dari ayat-ayat suci Al Quran, sedangkan Al Quran itu adalah
firman Allah. Maka bila manjur, hal tersebut bukan suatu keanehan sebab
apa yang digunakan adalah firman Allah. Kurang dari itu, Al Quran adalah
mukjizat dari Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, sedangkan
Al Quran adalah salah satu warisan daripada Rasulullah SAW yang
diperuntukkan bagi seluruh manusia (dan jin)."
- Tanya: "Apakah benar ada larangan menggunakan ilmu asihan dari Al Quran maupun Al Hadist? Sebab, bisa saja suatu kali orang menanyakan tetntang keberadaan dalilnya."
- Jawab: "Tentu saja ada.
Seperti penggalan Surah Al Baqarah ayat 102, yang berkata bahwa:"...Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui."
Kemudian daripada Hadistnya adalah:Ibnu Mas’ud RA menuturkan : aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Ruqyah memiliki arti mantra (sedangkan ruqyah yang di maksud adalah ruqyah syirk, bukan ruqyah yang syari’), Tamimah adalah jimat dan Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya (dengan kata lain merupakan pelet atau pengasihan, meski berbeda penyebutannya namun maksud dan tujuan tetap serupa). - Tanya: "Nah, sebagaimana di atas tersebut adalah dalil dari Al Quran dan Hadist. Lebih dari itu, adakah alasan mengapa ilmu pelet itu haram dilakukan, yang mana secara empiris dan tidak mengacu ke dalam dalil islam?"
- Jawab:
"Tentu saja ada. Begini, pelet itu termasuk tindakan sihir. Sedangkan
suatu perbuatan sihir harus mengadakan ikatan kontrak dengan bangsa jin.
Selanjutnya ada konsep tumbal, yakni diadakannya pengorbanan yang
dipersembahkan untuk jin yang membantunya dahulu. Proses tumbal tidak
sekali maupun dua kali, melainkan berkali-kali. Di awalnya, tumbalnya
bisa saja seringan sesajen. Nanti pada akhirnya, si pelaku sihir yang
akan menjadi tumbal. Maka kesimpulannya, tindakan sihir itu haram karena
membawa kerugian bagi orang lain bagi diri sendiri."
- Tanya: "Konon ada pelet dengan media asap rokok dan media makanan maupun minuman, apakah daripada keduanya juga sekelas dengan jenis ilmu pelet yang menggunakan ritual khusus selama beberapa waktu?"
- Jawab:
"Sama saja. Hanya saja, pelet melalui asap rokok misalnya. Melihat
proses ritual yang sangat ringan sekali dan tanpa sesajen, itu ilmu
palsu. Tetap ilmu sihir, tapi palsu alias tidak mujarab. Andainya pada
proses pemeletan tiba-tiba si target menengok setelah terkena asap
rokok, itu bukan berarti manjur. Melainkan karena ia merasa terganggu
dengan asap rokok yang datang ke arahnya. Pada intinya, tiap-tiap ilmu
asihan yang tidak memakai jasa jin untuk melancarkan ilmu sihir,
hasilnya sia-sia dan hanya sugesti. Sudah dosa dan tidak mendatangkan
manfaat. Begitu pula dengan pelet media makanan atau minuman, sama
saja."
- Tanya: "Mengapa bila pelet itu ilmu sihir, mengapa hanya sedikit orang yang menyatakan bahwa itu asli sihir? Dan mengapa pula para praktisi ilmu pelet tidak mengetahui kalau apa yang dilakukannya adalah sihir?"
- Jawab: "Memang demikian, karena banyak manusia yang masih awam dalam dunia pelet karena mereka tidak memahami hakikat ilmu yang berkaitan. Para praktisi pelet pun bisa jadi ada yang mengetahui, tapi bukan tidak mungkin sebagian besar diantaranya tertipu dengan ilmu yang ia jalani sendiri. Karena, jin pada kondisi fitrah tidak terjangkau oleh panca indera manusia. Jadi wajar bila mereka tertipu, meski mereka adalah pakar ilmu asihan."
Maafkan saya bila ada khilaf berupa kesalahan apapun. Kebaikan itu datangnya dari Allah, sedangkan kesalahan itu datang dari saya.
insyaAllah, demikian.
Wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar