Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” Al Israa’ 36
Bila zaman kita dibalik ke waktu ratusan tahun silam, bisa dipastikan akan relatif banyak orang mencari pencerahan hidup dengan jalan bertapa. Menyepi, mengasingkan diri ke gunung/ hutan/ gua atau ke sungai besar yang biasanya bertemu arus (baca: tempuran). Lama waktu mengucilkan diri tersebut tidak sebatas hitungan jam, melainkan bisa berhari-hari, berbulan, bahkan konon ada yang bertahun-tahun. Sepulang dari bertapa, biasanya seseorang itu telah menjadi "sakti" dan bertambah kebijaksanaannya.
Jenis orang yang bertapa ada dua macam. Pertama, petapa temporer; yaitu setelah mendapatkan buah dari perjuangannya maka ia akan kembali ke alam ramai. Dan kedua, petapa permanen atau petapa sejati; yaitu seseorang yang melakukan pertapaan seumur hidup sepanjang hayat.
Seorang petapa itu bukan tidak makan, tidak minum, tidak tidur dan tidak buang hajat. Mereka tetap melakukan beberapa fitrah manusia, hanya saja dilaksanakan ketika benar-benar butuh dan seperlunya (berprihatin). Sedangkan kondisi keseharian difokuskan semaksimal mungkin demi meraih apa yang dikejar.
Tujuan orang bertapa itu beragam, seperti: mencari kesaktian, menyempurnakan kesaktian, merenung dan menyengaja untuk lepas dari urusan keduniawian. Namun bila dipersempit, inti tujuan bertapa adalah untuk mendapatkan wangsit. Apakah seorang petapa itu niscaya memperoleh wangsit? Nah, itu bisa saja. Selama seseorang tersebut hidup di zaman kenabian dan merupakan seorang nabi, maka bila Allah berkehendak mengaruniakan wangsit, pasti terjadi. Dengan kata lain, bila seorang yang bertapa itu tidak hidup di zaman kenabian dan bukan tergolong nabi, pasti tidak mendapat wangsit.
Konon mendapatkan wangsit itu sukar sekali. Hanya terbatas untuk jalma pinilih[1] saja yang mampu meraihnya, sedangkan orang biasa tidak akan bisa meski berusaha mati-matian. Pada hakikatnya opini tersebut benar-benar salah kaprah. Karena selain syarat untuk memperolah wangsit itu hanyalah terbatas bagi kaum nabi, wangsit sendiri bermakna wahyu[2] (yang datangnya dari Allah SWT). Maka, apakah mungkin bagi manusia biasa untuk dikaruniai wahyu atau wangsit? Jelaslah mustahil.
Begitu berakhir zaman kenabian, berhenti pula turunnya wahyu. Bahkan bagi para shahabat Rasul, tabi'in[3] dan tabi'ut tabi'in[4], wangsit atau wahyu dari Allah itu sudah tidak turun lagi diantara para manusia. Jadi manakala ada seseorang yang mengatakan mendapat wahyu dan sampai kondisi terparahnya adalah memproklamirkan diri sebagai nabi selepas masa kenabian, dapat dipastikan seseorang tersebut adalah pendusta atau keblinger[5].
Jenis petunjuk yang dikaruniakan oleh Allah untuk manusia biasa adalah berupa hidayah dan ilham, bukan wahyu. Adapun petunjuk lewat mimpi, itu tidak dapat diikuti begitu saja sebab bisa berasal dari Allah atau dari permainan jin setan (mimpi biasanya merupakan bahasa sandi atau isyarat yang perlu dita'wilkan, sedangkan hampir tiada manusia biasa yang mampu mengartikan mimpi dengan akurat). Ya, hanya tiga itu saja.
Bila dinalar, untuk ukuran manusia biasa itu memang tidak akan kuat bila sampai memperoleh wahyu. Sebab, porsi jiwa, fisik, IQ[6] maupun SQ[7]nya harus ukuran nabi. Opini pada paragraf ini bukanlah omong kosong belaka. Mari kita renungkan, ada seseorang yang baru membaca ayat-ayat suci Al Quran yang merupakan firman Allah, oleh karena akal dan jiwanya lemah, sampai akhirnya malah tersesat dan mengaku nabi kemudian membuat ajaran sendiri?
Di lain waktu dan peristiwa, ada juga orang yang mengaku menerima bisikan ghaib yang menyuruh ini dan itu. Padahal setan juga diberi izin oleh Allah untuk membisikkan sesuatu yang menyesatkan. Ini mendeskripsikan bahwa level akal dan jiwa manusia biasa memang tidak mampu untuk diinjeksi dengan wahyu. Terdapat beberapa alasan mengapa manusia biasa tidak akan kuat menerima wahyu, sebagai berikut:
Daripada keempat poin di atas, bisa dibayangkan bahwa menerima wahyu itu menyakitkan sekaligus menyiksa si penerima, hingga ber_imbas ke fisik. Di sisi lain, ternyata wahyu itu tidak seperti angin sepoi-sepoi, melainkan berat juga dalam hal bobot. Nah, sedangkan bagi manusia biasa yang pernah atau seringkali menerima isyarat/ hidayah/ ilham dari Allah, tidak diketemukan adanya pertanda tersiksa oleh karena beban berat. Ini menandakan bahwa tidak ada manusia selain nabi, yang pernah menerima wahyu.
- Rasulullah SAW pernah bercerita: "Terkadang wahyu itu datang padaku seperti gemerincing lonceng, dan itulah yang terberat bagiku, karena gemerincing itu dapat merobohkan aku, walaupun aku tetap tersadar dan mendengarkan apa yang disampaikan padaku. dan terkadang wahyu itu dibawa oleh malaikat Jibril yang menyerupai manusia, lalu ia menyampaikan wahyu itu padaku dan aku mengerti apa yang dikatakannya."
(Kitab Muwatha' Imam Malik, Kitab Sunan At-Tirmidzi, dan Kitab Shahih Al-Jami':213)- Aisyah juga bercerita:" Aku juga pernah melihat ketika Nabi menerima wahyu pada saat cuaca sangat dingin, dan nabipun roboh, dan didahinya mengalir keringat dengan deras.(Kitab Muwatha' Imam Malik, Kitab Sunan An-Nasa'i)
- Ketika pada suatu hari beliau (Rasulullah SAW) duduk dengan meletakkan pahanya di atas kaki Zaid bin Tsabit[8], kemudian datang wahyu kepadanya yang membuat ia roboh seperti biasanya, dan Zaid merasakan paha Nabi tiba-tiba menjadi berat sekali dan hampir dapat membuat kakinya patah. (Kitab Shahih Al-Bukhari)
- Wahyu itu juga pernah di turunkan pada saat Nabi Muhammad SAW sedang menunggangi seekor onta, dan unta yang kokoh itu pun mendadak berat langkahnya karena semakin beratnya beban yang ia bawa. Kalau saja penurunan wahyu itu memakan waktu yang lebih lama, maka unta itu pasti akan roboh dan terjatuh.
Dan pernah juga beberapa kali Umar mendekatkan telinganya ke dada Nabi pada saat Beliau menerima wahyu, Umar seperti mendengar dengungan yang mirip dengungan lebah di dada Nabi.
Terkadang dalam suatu percakapan, ditemui perang argumentasi. Pihak yang berkeyakinan bahwa manusia biasa mampu memperoleh wangsit berkata bahwa "bila Allah menghendaki, kenapa tidak?" Tapi pada faktanya, memang sudah menjadi sunnatullah bahwa penerima wahyu hanyalah terbatas pada kaum nabi
Adapun frasa "Allah mewahyukan...", semisal:
- Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", An Nahl ayat 68
▀▀▀▀▀▀ ▀▀▀▀▀▀ ▀▀▀▀▀▀ ▀▀▀▀▀▀ ▀▀▀▀▀▀ ▀▀▀▀▀▀ ▀▀▀▀▀▀ ▀▀▀▀▀▀ ▀▀▀▀▀▀
catatan kaki:
[1] orang yang terpilih
[2] Makna awal dari kata وَحْي (wahy, dieja: wahyu) adalah “isyarat yang cepat”. Ia bisa berupa ucapan dalam bentuk lambang dan isyarat, atau dalam bentuk suara yang tak tersusun, atau juga berupa isyarat anggota badan. Karena wahy memiliki dua ciri utama, yakni “samar” dan “cepat”, maka secara etimologis kata tersebut kerap diartikan sebagai “pemakluman secara samar, cepat, dan terbatas Secara leksikal, wahyu memiliki makna yang beragam. Yang paling komprehensif dan sempurna dari seluruh makna tersebut adalah perpindahan pengetahuan kepada pikiran orang yang dituju secara cepat dan rahasia sedemikian sehingga tersembunyi dan tidak nampak bagi semua orang.
Ar-Raghib menuliskan, “Wahyu adalah sebuah
petunjuk yang sangat cepat. Wahyu terkadang dengan perkataan simbolik,
terkadang dalam bentuk suara tanpa susunan, terkadang dengan isyarah
sebagian anggota badan, dan terkadang dengan tulisan. Menurut Ibnu
Atsir, “Kata wahyu dalam hadis sering dimaknakan sebagai tulisan,
isyarat, risalah, ilham dan bisikan.
Dari pemaknaan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa wahyu memiliki enam makna, yaitu: Bisikan, Suara yang tak terdengar, Isyarat, Tulisan, Risalah dan utusan, Ilham. Syekh Mufid menyatakan, “Makna utama wahyu ialah bisikan, lalu secara mutlak diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menjelaskan dan memahamankan sebuah obyek kepada lawan bicara dengan cepat dan tersembunyi.
Wahyu menurut etimologi (bahasa) adalah memberitahukan secara sama, atau dapat diartikan juga dengan tulisan, tertulis, utusan, ilham, perintah dan isyarat. Sedangkan menurut terminology (syariat) adalah memberitahukan hukum – hukum syariat, namun terkadang yang dimaksud dengan wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan, yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Adapun pengertian “permulaan turunnya wahyu” adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan permulaan turunnya wahyu. Menurut Kamus Al-Mufrâdât fî Ghara`ibi`l-Qur`ân, makna aslinya adalah
al-‘Isyaratu`s-sarî’ah. Artinya, isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati
seseorang atau ilqâ’un fi`r-rau`i, maksudnya yang disampaikan dalam hati.
[3] Tabi'in artinya pengikut, adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad. Usianya tentu saja lebih muda dari Sahabat Nabi bahkan ada yang masih anak-anak atau remaja pada masa Sahabat masih hidup. Tabi'in disebut juga sebagai murid dari Sahabat Nabi.
[4] Tabi'ut tabi'in atau Atbaut Tabi'in artinya pengikut Tabi'in, adalah orang Islam teman sepergaulan dengan para Tabi'in dan tidak mengalami masa hidup Sahabat Nabi. Tabi'ut tabi'in disebut juga murid Tabi'in. Menurut banyak literatur Hadis : Tab'ut Tabi'in adalah orang Islam dewasa yang pernah bertemu atau berguru pada Tabi'in dan sampai wafatnya beragama Islam. Dan ada juga yang menulis bahwa Tabi'in yang ditemui harus masih dalam keadaan sehat ingatannya. Karena Tabi'in yang terahir wafat sekitar 110-120 Hijriah. Dalam kalangan 4 imam mazhab ahli sunnah waljamaah imam Hanafi tidak termasuk dalam tabi' tabiin karena beliau pernah berguru dengan sahabat Nabi. Manakala baik 3 imam yaitu imam Malik dan imam Syafi'i adalah tabi' tabiin karena mereka berguru dengan tabiin. Tabi'in seperti definisi di atas tapi bertemu dengan Sahabat. Sahabat yang terahir wafat sekitar 80-90 Hijriah.
[5] terbelokkan/ keliru/ tersesat/ menyimpang/ salah jalan.
[6] Intelligence Quotients adalah kecerdasan manusia dalam kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar, memahaman gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya. Anggapan awal bahwa IQ adalah kemampuan bawaan lahir yang mutlak dan tak dapat berubah adalah salah, karena penelitian modern membuktikan bahwa kemampuan IQ dapat meningkat dari proses belajar. Kecerdasan ini pun tidaklah baku untuk satu hal saja, tetapi untuk banyak hal, contohnya; seseorang dengan kemampuan mahir dalam bermusik, dan yang lainnya dalam hal olahraga. Jadi kecerdasan ini dari tiap - tiap orang tidaklah sama, tetapi berbeda satu sama lainnya.
[7] Spiritual Quotients adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berasal dari dalam hati, menjadikan kita kreatif ketika kita dihadapkan pada masalah pribadi, dan mencoba melihat makna yang terkandung di dalamnya, serta menyelesaikannya dengan baik agar memperoleh ketenangan dan kedamaian hati. Kecerdasan spiritual membuat individu mampu memaknai setiap kegiatannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Tuhan.
[8] Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari (612 - 637/15 H)), (Bahasa Arab: زيد بن ثابت), atau yang lebih dikenal dengan nama Zaid bin Tsabit, adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW dan merupakan penulis wahyu dan surat-surat Rasulullah SAW.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬Dari pemaknaan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa wahyu memiliki enam makna, yaitu: Bisikan, Suara yang tak terdengar, Isyarat, Tulisan, Risalah dan utusan, Ilham. Syekh Mufid menyatakan, “Makna utama wahyu ialah bisikan, lalu secara mutlak diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menjelaskan dan memahamankan sebuah obyek kepada lawan bicara dengan cepat dan tersembunyi.
Wahyu menurut etimologi (bahasa) adalah memberitahukan secara sama, atau dapat diartikan juga dengan tulisan, tertulis, utusan, ilham, perintah dan isyarat. Sedangkan menurut terminology (syariat) adalah memberitahukan hukum – hukum syariat, namun terkadang yang dimaksud dengan wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan, yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Adapun pengertian “permulaan turunnya wahyu” adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan permulaan turunnya wahyu. Menurut Kamus Al-Mufrâdât fî Ghara`ibi`l-Qur`ân, makna aslinya adalah
al-‘Isyaratu`s-sarî’ah. Artinya, isyarat yang cepat yang dimasukkan ke dalam hati
seseorang atau ilqâ’un fi`r-rau`i, maksudnya yang disampaikan dalam hati.
[3] Tabi'in artinya pengikut, adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad. Usianya tentu saja lebih muda dari Sahabat Nabi bahkan ada yang masih anak-anak atau remaja pada masa Sahabat masih hidup. Tabi'in disebut juga sebagai murid dari Sahabat Nabi.
[4] Tabi'ut tabi'in atau Atbaut Tabi'in artinya pengikut Tabi'in, adalah orang Islam teman sepergaulan dengan para Tabi'in dan tidak mengalami masa hidup Sahabat Nabi. Tabi'ut tabi'in disebut juga murid Tabi'in. Menurut banyak literatur Hadis : Tab'ut Tabi'in adalah orang Islam dewasa yang pernah bertemu atau berguru pada Tabi'in dan sampai wafatnya beragama Islam. Dan ada juga yang menulis bahwa Tabi'in yang ditemui harus masih dalam keadaan sehat ingatannya. Karena Tabi'in yang terahir wafat sekitar 110-120 Hijriah. Dalam kalangan 4 imam mazhab ahli sunnah waljamaah imam Hanafi tidak termasuk dalam tabi' tabiin karena beliau pernah berguru dengan sahabat Nabi. Manakala baik 3 imam yaitu imam Malik dan imam Syafi'i adalah tabi' tabiin karena mereka berguru dengan tabiin. Tabi'in seperti definisi di atas tapi bertemu dengan Sahabat. Sahabat yang terahir wafat sekitar 80-90 Hijriah.
[5] terbelokkan/ keliru/ tersesat/ menyimpang/ salah jalan.
[6] Intelligence Quotients adalah kecerdasan manusia dalam kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar, memahaman gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya. Anggapan awal bahwa IQ adalah kemampuan bawaan lahir yang mutlak dan tak dapat berubah adalah salah, karena penelitian modern membuktikan bahwa kemampuan IQ dapat meningkat dari proses belajar. Kecerdasan ini pun tidaklah baku untuk satu hal saja, tetapi untuk banyak hal, contohnya; seseorang dengan kemampuan mahir dalam bermusik, dan yang lainnya dalam hal olahraga. Jadi kecerdasan ini dari tiap - tiap orang tidaklah sama, tetapi berbeda satu sama lainnya.
[7] Spiritual Quotients adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berasal dari dalam hati, menjadikan kita kreatif ketika kita dihadapkan pada masalah pribadi, dan mencoba melihat makna yang terkandung di dalamnya, serta menyelesaikannya dengan baik agar memperoleh ketenangan dan kedamaian hati. Kecerdasan spiritual membuat individu mampu memaknai setiap kegiatannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Tuhan.
[8] Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari (612 - 637/15 H)), (Bahasa Arab: زيد بن ثابت), atau yang lebih dikenal dengan nama Zaid bin Tsabit, adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW dan merupakan penulis wahyu dan surat-surat Rasulullah SAW.
Maafkan saya bila ada khilaf berupa kesalahan apapun. Kebaikan itu datangnya dari Allah, sedangkan kesalahan itu datang dari saya.
insyaAllah, demikian.
Wallahu a'lam.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Referensi:
- Al Quran Digital Versi 2.1
- http://id.wikipedia.org/wiki/Zaid_bin_Tsabit
- http://fadhlyashary.blogspot.com/2012/04/pengertian-iq-eq-sq-dan-esq.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Tabi%27ut_tabi%27in
- http://id.wikipedia.org/wiki/Tabi%27in
- bab-xvii-kultus-individu
- http://hadis-rasullullah.blogspot.com/2012/05/pengertian-ilham.html
- http://jalmilaip.wordpress.com/2012/01/30/perbedaan-taufik-hidayah-dan-ilham/
- apakah-ilham-firasat-mimpi-dan-kasyaf-melihat-sesuatu-yang-ghaib-dapat-dijadikan-dalil-kata-kerja
- http://www.konsultasisyariah.com/jumlah-nabi-dan-rasul/#
- http://membaca-alquran.blogspot.com/2011/02/wahyu-setelah-rasulullah.html
- http://hamdiblogger.blogspot.com/2010/11/makna-ilham-dan-wahyu.html
- http://muallimku.blogspot.com/2011/03/nabi-mendapat-wahyu-kita-mendapat-ilham.html
- http://www.muslim-menjawab.com/2010/12/nabi-muhammad-saw-mendapat-wahyu-dari.html
- kamus bahasa sansekerta indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar