Daftar Menu

  • Home
  • Mutiara Hikmah
  • Video
  • My Profil
    • My Facebook
    • Jumat, 20 Desember 2013

      Diri Sejati

      Bismillahirrohmanirrohim,
      Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,
      Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh.
      Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.
      “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” Al Israa’ 36

      Siapakah diriku?
      Siapakah sejatinya diriku?
      Bagaimana cara mengetahui diri sejati?
      InsyaAllah, kurang lebih pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang terkadang muncul dalam bahasan seputar kejawen. Yaitu seseorang yang terkelabui sehingga menjadi bingung ke dalam diri sendiri, oleh karena dibikin bingung oleh suatu bacaan yang membicarakan tentang diri sejati. Sebagai imbasnya, seseorang tersebut akan bertanya-tanya dan dipermainkan oleh dirinya sendiri.

      Pada hakikatnya, diri sejati itu adalah diri kita ini. Karakter - kebiasaan - cara berperilaku - cara berpikir - cara merasa - bayangan yang muncul bila kita sedang bercermin, itulah diri kita. Sayangnya, sampai di sini mungkin masih ada rasa tidak puas. Masih ada keraguan yang membayang, oleh karena merasa bahwa belum menemukan siapa sejatinya.

      Terus terang, seseorang bingung dengan dirinya sendiri itu adalah sesuatu yang lucu. Tidak logis, bagaimana bisa? Lha iya, kita itu adalah individu mandiri yang telah diciptakan oleh Allah. Dengan kata lain, diri sejati kita adalah diri kita yang sehari-hari, yang kemarin-kemarin dan yang sekarang. Mungkin sampai disini masih ragu, senantiasa masih ada pertanyaan.

      Sebenarnya satu jalan yang paling sederhana untuk pupus dari kebingungan tersebut hanyalah belajar. Yakni belajar mencari diri sendiri, atau lebih dikenal dengan istilah instrospeksi diri. Memang, frasa instrospeksi diri terkesan simple bahkan sepele. Akan tetapi, sesuatu yang besar yang berada di dalam sesuatu yang nampak ringan itu kerap luput dari perhatian kita.
      Sungguh tidak perlu melakukan sesuatu yang aneh-aneh untuk memburu diri pribadi, seperti: rapalan suatu mantra - bertapa di tempat-tempat yang jauh dari keramaian - dan lain sebagainya. Bahkan bilamana pencarian itu dilakukan di luar diri kita, sehingga bila ada suatu perwujudan asing mendatangi dan ia mengatakan sebagai diri sejati, kalau tidak jin pasti halusinasi.

      Hasil dari mempelajari diri sendiri, adalah kebijaksanaan (kearifan) - kejujuran - berpengetahuan - relatif mampu menahan nafsu. Sampai pada titik puncak adalah "bisa ngandhani awake dhewe," atau mampu menasehati diri sendiri. Namun, jalan untuk arif, benar-benar sukar karena harus melalui berbagai rasa sakit yang tidak boleh dibantah. Seperti; jujur terhadap kekurangan - kesalahan - kecerobohan - kebodohan - kelemahan - bahkan dosa diri sendiri. Diiringi juga dengan sikap berani terhadap diri untuk mengakui segala nilai minus tersebut sebagai perpaduan ikhtiar.

      Setelah sukses memahami diri sejati, itu juga tidak berhenti begitu saja. Masih ada pondasi lain yang bahkan harus dipelajari sebelum belajar sesuatu yang lain, yaitu ilmu islam. Jadi, mau dikatakan sudah berhasil memahami diri sejati tapi keimanannya kepada Allah adalah dangkal, seseorang tersebut tidak pernah paham apa itu diri sejati.
      Sedangkan ilmu-ilmu keislaman dan pengetahuan lain itu juga penting, karena tebalnya iman seseorang itu melalui akal (yang digunakan untuk mempelajari ilmu yang ada). Tanpa melalui akal kemudian ilmu, iman seseorang itu bagai bambu rapuh yang dimakan rayap karena nalarnya tidak mampu menjawab imannya. Hati kita niscaya bertanya-tanya untuk apa dan mengapa beriman, manakala akal kita tidak menjangkau sehingga mampu menerangkan sebab pasti mengapa beriman.

      Dikatakan juga bahwa bila seseorang itu sudah mendapati diri sejatinya, maka akan bertemu guru sejatinya. Ya, insyaAllah niscaya itu benar. Guru sejati itu sendiri pun bukan berupa makhluk dalam segi manapun. Melainkan ilham (petunjuk) akan kebenaran (yang datangnya dari Allah SWT).
      Kurang dari hal-hal tersebut, seseorang itu harus mendapatkan kunci keilmuan agar menguasai beberapa ilmu. Yaitu hikmah sebagai karunia dari Allah, karena tanpa hikmah seseorang itu ibarat berjalan tanpa bakal apapun.

      Maka, setelah manusia itu mencapai kelas di atas kebanyakan manusia apakah menjadi sesuatu yang lain? Tidak sama sekali. Seseorang yang mempelajari diri sendiri, setelah sukses, ia tetap manusia biasa - senantiasa tetap memiliki kelemahan dan kekurangan juga kesalahan serta lain sebagainya layaknya manusia biasa. Bahkan, tidak pula mencapai derajat makrifat apalagi tingkat nabi. Hanya saja, dalam pola pikir - kepekaan perasaan - perilaku - keilmuan, insyaAllah akan berada di kelas yang berbeda dengan orang pada umumnya.

      Kunci mempelajari kesejatian:
      Hikmah - ilmu islam dan niat - keberanian - kejujuran. Mengapa demikian? Karena agama islam, bisa diartikan sebagai pedoman keselamatan. Islam berisi syariat, yang berarti peraturan. Seseorang yang ingin hidup selamat dunia dan akhirat tapi tidak berpegang pada aturan dari pedoman keselamatan, insya Allah sukar untuk selamat.

      ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

      Maafkan saya bila ada khilaf berupa kesalahan apapun. Kebaikan itu datangnya dari Allah, sedangkan kesalahan itu datang dari saya.

      insyaAllah, demikian.
      Wallahu a'lam.

      Tidak ada komentar:

      Posting Komentar