Kalau kita sadari lagi bahwa hidup itu sementara, mengapa masih
banyakdi antara kita yang dengan SENGAJA menunda-nunda apa yg seharusnya
kitalakukan pada saat itu juga. Contoh kecil, shalat 5 waktu.Saya
sendiri sadar kalo saya juga sering dengan sengaja menunda ibadah, maka
ketika menghayati pesan yg di sampaikan orang tua, ngerasa bersalah akan
apa yg udh saya lakuin selama ini.
Lalu apa-nya yang "tidak
sementara"? Yaitu Jiwa kita. Ketika kitameninggalkan Raga kita, Jiwa
kita tetap hidup. Dan apa yang AKAN Jiwakita peroleh nanti, itu
merupakan apa yang TELAH kita perbuat selamaJiwa masih ada di dalam
Raga. Apa yg membedakan kita? ,,,Raga,,, Dan di setiap raga diisi dengan
jiwa yg sama mulianya di mata Tuhan.
Itulah mengapa dalam semua
kitab ada ketentuan-ketentuan tentang apasaja yg BOLEH dan TIDAK BOLEH
di konsumsi. Misal, MINUM. Itu adalahuntuk Raga kita, larangan minum
minuman keras/memabukkan itu adalahuntuk kemuliaan Jiwa kita.
Apakah orang yang Jiwanya sakit/sakit Jiwa, Jiwanya tidak mulia?
Coba
kita sadari lagi, apa sih yg kita lakukan jika bertemu,berpas-pas-an,
atau bahkan di dekati oleh orang-orang sakit jiwa itu?
Nilai
lah diri kita sendiri dari apa yg kita lakukan untuk orang-orangseperti
mereka. Sadarkah bahwa Tuhan menguji kemuliaan Jiwa kita darihal
tersebut?
Jadi kalo di pikir-pikir lagi, orang-orang seperti mereka
itu ternyatalebih mulia dari kita. Maka perbaiki sikap kita di depan
mereka. Kemudian banyak yg berpendapat bahwa Hari Perhitungan itu adalah
nantidi Akhirat. Setuju, tapi jika kita berpikir lebih Logis
Perhitungan ituterjadi setiap saat. Apapun yang dapatkan hari ini adalah
akibat dariapa-apa yg telah kita lakukan di hari-hari yg lalu. Dan
apapun yangkita lakukan hari ini akan berdampak besar di kemudian hari.
Kesimpulannya,
berusahalah mencintai apa saja yang kita lakukan saatini. Apapun yg
harus dilakukan, lakukan yg terbaik. Lalu lihatlah apayg
terjadi..!!"Siapa yang mengetahui apa kita salah atau benar?"
Ada yang bilang Tuhan yang maha mengetahui, tapi kata Abi kita masih memiliki jarak.
Lalu siapa yang mengetahui "salah atau benar"?
Yaitu
Ego kita. Seperti waktu Puasa jika kita mengikuti Ego kita, puasaitu ga
enak. Menurut ego yang enak itu ya pas buka puasa. Tapi jikakita bisa
mengendalikan ego, puasa itu merupakan hal terbaik yg bisakita lakukan
untuk melatih diri di kemudian hari.
Salut untuk Bapak, saya
menjalani hidup hampir 22 tahun bersama seorang Bapak yg syukur
alhamdulillah cukup bijak dalam menghadapi hidup. Saya dituntut untuk
selalu melakukan yg terbaik, di setiap detik dan di setiaphembusan
nafas. Beliau juga mengatakan bahwa: "jika kamu telahmeninggalkan suatu
ibadah, dengan sengaja, maka bayarlah ibadahtersebut dengan Ikhtiar.
Tapi jangan sampai terbiasa untukmeninggalkannya. Karena Allah tidak
GILA HORMAT, Dia menilai kita darisikap dan apa-apa saja yg telah / akan
kita lakukan.
JADI, APAPUN YANG KITA TELAH LAKUKAN KEMARIN ENTAH BAIK ATAU BURUK ITU ADALAH SEJARAH.
JADIKAN HAL TERSEBUT SEBAGAI "SEPION" KEHIDUPAN.
LALU, APAPUN YANG TELAH KITA DAPATKAN HARI INI MERUPAKAN HADIAH DARI APA-APA YG TELAH KITA LAKUKAN KEMARIN.
KEMUDIAN APA YANG TERJADI ESOK MERUPAKAN MISTERI YANG SESUNGGUHNYA DAPAT KITA LIHAT DARI APA YANG KITA LAKUKAN TERBAIK HARI INI.
kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri dan sekarang adalah hadiah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar